Selasa, 25 Februari 2014

MPASI INSTAN vs HOMEMADE Bagian 5 - Terakhir

Bagian 5
Seputar MPASI Instan


Ada yang pernah membandingkan rasa MPASI Instan dengan bahan2 aslinya? Contoh rasa pisang saja yang gampang (di gambar) .


Kebetulan saya pernah makan keduanya, bagi saya pribadi rasa alami tidak akan tergantikan dengan buatan. Manisnya berbeda, kalau mata saya tertutup dan pisang asli dibuat lumat vs makanan instan (bubur) rasa pisang , saya bisa tebak yang mana yang instan yang mana yang asli.
Begitu pula dalam hal rasa masakan. Saya tidak pernah memasak pakai MSG dan bumbu2 yang tajam, nah ketika saya pulang sebentar ke Indonesia, makan di restoran, saya rasa semua rasa makanannya “tajam”, banyak MSG nya, alhasil saya langsung pusing (saya sensitive sama MSG) dan ujung-ujungnya diare.

Menurut Gabrielle Palmer (nutritionist, breastfeeding counselor, former UK IBFAN ). Kecenderungan menyukai suatu rasa dibentuk sejak awal kehidupan dan cara pemberian makan awal bayi (MPASI) dapat membentuk bayi/anak menginginkan rasa yang terlalu manis, asin, makanan-minuman rendah nutrisi untuk jangka panjang. 

Sepertinya sangat umum di sosial media Ibu2 yang mengeluh bayi/anaknya tidak mau lagi makan makanan homemade setelah sebelumnya terbiasa makan makanan instan. Masih menurut Gabrielle, terdapat bukti/evidence bahwa anak2 yang tereskpose/mendapatkan beragam makanan sehat dan alami , di masa mendatang akan memilih sendiri makanan sehat seimbang yang memenuhi kebutuhan nutrisinya. Dan jangan lupa, bayi-anak adalah Imitator/peniru, they see, they learn, they copy. Jadi konsep memberi makanan sehat adalah untuk seluruh keluarga, bukan hanya untuk bayi-anak2 saja. Bisa intip tulisan saya :

10 Tips Orang Tua Jadi Contoh Pola Makan Yang Baik & Sehat untuk anak2

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10202928886289029&set=pb.1409280466.-2207520000.1393179840.&type=3&theater

Pernah dengar RUTF? RUTF adalah Ready To Use Therapeutic Food. RUTF ditemukan akhir tahun 1990. Produk makanan instan yang bisa masuk kategori RUTF adalah makanan yang padat vitamin dan mineral setara dengan F100 (Formula 100). F100 adalah produk susu therapeutic yang didesain khusus untuk mengobati malnutrisi berat. RUTF sangat berguna untuk mengobati kasus malnutrisi berat yang penderitanya memiliki akses terbatas ke sumber2 bahan makanan local untuk rehabilitasi nutrisinya. Yang jadi masalah, ketika RUTF diberikan pada bayi-anak yang tidak mengalami malnutrisi berat dan diberikan setiap hari (daily diet). 

Berikut kutipan dari buku Palmer :

“ The Use of ready made food designed for the clinical rehabilitation of severe malnutrition SHOULD NOT become the daily diet just because political leaders neglect their basic duty to provide water, to support locally sustainable food system & communicate practical nutrition information.”

Nah tepat sekali kutipan di atas dengan suara hati saya. 
Kembali pada point 1 : Rekomendasi pemberian MPASI Instan difortifikasi . 

Apakah pemerintah Indonesia sudah melaksanakan kewajibannya : 
1. Menyediakan air bersih
2. Mendukung sistem dan memberi kemudahan akses (termasuk harga terjangkau) mendapatkan bahan makanan lokal kaya nutrisi 
3. MengEdukasi masyarakat mengenai nutrisi A to Z ( sehingga masyarakat paham mengenai Nutrisi dari sejak pemilihan bahan, paham apa kandungannya, cara penyiapan hingga penyajian dan untuk MPASI mengikuti panduan AFATVAH yang sudah saya jelaskan sebelumnya) ? Silahkan menilai sendiri. 

Saya ada menyinggung kampanye Michelle Obama mengenai kembali pada memasak - makanan rumahan , salah satu janji pemerintah US adalah Easy Access to Healthy - Affordable Food (lihat gambar di comment).

Kemiskinan adalah faktor kunci terjadinya kasus malnutrisi, tapi jangan salah, anak2 yang lahir besar di keluarga yang mampu bahkan kaya juga dapat menerima nutrisi yang tidak tepat/tidak optimal. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi dan kemampuan ekonomi yang lebih baik bagi orang eropa dan Amerika Selatan menghasilkan keluarga yang menerima asupan bervariasi dan memiliki kesehatan yang lebih baik dibandingkan dengan yang tingkat pendidikannya lebih rendah dan kemampuan ekonominya lebih lemah (belum tentu begini ya di Indonesia).

Pemberian RUTF / ready-to-use therapeutic foods yang digunakan saat kasus gawat darurat (malnutrisi berat), dapat memberikan konsekuensi negative di kondisi normal. Salah satu potensi bahayanya misalnya, bahan makanan lokal yang murah dapat terabaikan karena strategi pemasaran & iklan – promosi RUTF yang persuasif meyakinkan anggota keluarga bahwa makanan instant (misal puree pisang dalam botol) secara kandungan nutrisi jauh lebih superior dibanding dari pisang di pasar. 

Problem berikutnya , nilai2 dasar keluarga di mana keluarga mampu menyediakan makanan sehat bergizi juga akan terkikis . Dikhawatirkan, manusia meyakini bahwa manusia tidak dapat menyiapkan makanan yang layak untuk anak2nya, supaya layak/bergizi baik makanan tersebut harus dibuat di pabrik. Hal lain, hilangnya kebiasaan Food sharing di antara anggota keluarga (ya iyalah siapa juga orang dewasa yang mau makan MPASI instant seperti bayi/anaknya, pasti lebih memilih makan pisang asli –misalnya).

Sejak beberapa decade terakhir, industri makanan meningkat secara pesat. Mengutip tulisan saya mengenai The Truth About Baby Food Jar :
“ Berapakah besarnya pasar makanan bayi secara global? Diperkirakan besarnya lebih dari £6 billion . Coba kita konversikan ke rupiah . 1 GBP ( British Poundsterling) = Rp 19.500. Jadi 6 billion GBP = 6.000.000.
000 x 19.500 = Rp 117.148.200.000.000 = 117 Trilyun Rupiah ! 

Harap diingat bahwa ketika para orang tua membeli makanan instant tersebut mereka tidak hanya membayar untuk kandungannya tapi juga untuk pemrosesannya, pengemasannya, penyimpanan, pendistribusian, dan iklan serta biaya2 pemasaran lainnya. Apa konsekuensinya? Commercial baby food ini harganya sangat mahal / jauh lebih mahal dari bahan aslinya. 

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10202625119735055&set=pb.1409280466.-2207520000.1393202286.&type=3&theater “

Ini fakta di sini (US) : Perusahaan2 yang memproduksi MPASI Instan berlomba2 mendapatkan konsumen. Banyak sekali caranya, mulai dari pembagian brosur, mengirim direct mail, iklan TV dll untuk meyakinkan bahwa produknya yang terbaik. Gerber baru saja meluncurkan $30 million atau sekitar Rp 300 milyar lebih untuk iklan TV, media cetak dan direct mail mengusung slogan : “For Learning to eat smart, right from the start”. Iklan tersebut berusaha meyakinkan orang tua bahwa produk Gerber : “ specially formulated to help your baby develop a variety of tastes for healthier foods" "The longer you can keep your baby on these smart [Gerber] foods now, the better her chances are for eating healthy--and being healthy--for a long time to come." 

Juga iklan di bawah ber tagline Baby Food So Easy (mudah dalam pemberiannya, ga perlu repot menyiapkannya) dan penekanan kata Natural.

Bisa liat beberapa iklan videonya di :
http://www.youtube.com/watch?v=Ng7k7vhHo58
http://www.youtube.com/watch?v=1kqHJAY8afM

Sementara pesaingnya, Heinz, mengklaim "Everything you could want in a baby food!" and provide "Only the best ingredients for the best nutrition."
Bisa dilihat Iklan Heinz , tagline : A better way to feed you baby (Cara yang lebih baik dalam memberi makan bayi Ibu)
http://www.youtube.com/watch?v=nzoRpN0NDHQ

Bagaimana iklan2 MPASI Instan di Indonesia?

1. Promina mengusung tagline : satu-satunya bubur tim saji praktis dengan nutrisi & tekstur yang tepat 
http://www.youtube.com/watch?v=iGwKPdwKyvw
Perhatikan penekanan kata praktis, untuk saya yang mengambil program master bidang Marketing Management, campaign tsb juga akan “leading” pada persepsi menyiapkan MPASI homemade itu ribet/repot.

2. Cerelac mengusung tagline : Gizinya pasti, harga pas.Pilihan cerdas esok cemerlang.
http://www.youtube.com/watch?v=ZoCSIDv13k8

3. Milna mengusung tagline Ahlinya makanan bayi, dengan bla bla bla agar bayi anda tumbuh optimal.
http://www.youtube.com/watch?v=igS7VMdAj5c

Di bagian akhir tulisan ini yang semoga bagi yang sudah membaca lengkap mendapat gambaran utuhnya, pertanyaan yang sering diajukan itu kan : 

What Parents Should Do?

1. Berikan bayi-anak kita nutrisi yang paling baik serta ekonomis.
Ingat bagian 3 : Food is more than nutrition? Kampanye kembali memasak? Dilanjutkan Bagian 4 : Serba serbi MPASI & zat besi? 

Cara memilih bahan, mengolah, menyajikan, dan menyimpan, semua itu perlu ILMU. Dan tidak bisa para Ibu hanya menyalahkan tim kesehatan yang tidak pernah mengEdukasi atau mendapat informasi yang kurang tepat, kurangnya kampanye pemerintah mengenai hal ini, maka lebih baik para Ibu PRO AKTIF. 

Sudah banyak kelas2 Persiapan MPASI, bergabung dengan2 Group2 kesehatan yang reliable. Kunjungi website2 credible (saya pernah kasih tips ya cara mencari sumber dari website2 credible).

2. Paham kapan saat yang tepat memberikan MPASI Instan.

Kembali pada penjelasan Palmer mengenai penggunaan RUTFs (Ready to Use Theurapeutic Food), maka MPASI Instan difortifikasi dapat diberikan saat anak menderita kasus malnutrisi atau sudah mendekati tahap malnutrisi DAN akses mendapatkan bahan makanan kaya gizi dan spesifik untuk menangani malnutrisinya itu sulit. 

Sulit di di sini bisa 2, bisa sulit karena tidak mampu (kondisi kemiskinan) dan atau sulit mendapatkannya di daerah Ibu tinggal. (key point : RUTFs is NOT for daily diet for healthy baby & easy access to get nutritious food).

Ada kondisi-kondisi di mana Ibu tidak dapat menyiapkan MPASI homemade seperti Ibu sakit , dalam perjalanan dan kondisi2 emergency lainnya. Maka pemberian MPASI Instan adalah salah satu solusi. 

Jangan sampai bayi tidak mendapatkan MPASI yang mencukupi karena Ibu ngotot ingin selalu memberi MPASI homemade. Sama seperti adanya kasus Ibu yang ngotot memberi ASIx padahal bayinya sudah terindikasi kurang asupan.

Ketika Ibu membeli MPASI Instan, berikut ini What To Do Listnya : 

a. Pastikan kemasan tertutup rapat & dalam kondisi baik.

b. BACA LABEL Kemasan :
- Pilih yang tanggal kadaluwarsanya masih cukup lama 
- Baca kandungannya , bandingkan nilai kalori & lainnya dengan merek lainnya, jangan hanya terpengaruh iklan & promosi.

c. Ketika dibuka/sebelum penyajian pertama, pastikan baik bau, tekstur dan rasa tidak ada yang aneh.

d. Ikuti saran penyajian di kemasan. Sama seperti penyajian susu formula, tidak boleh air dikurangi atau ditambah yang akan mengurangi kandungan zat gizinya.

Alinea Penutup, ada 2 kutipan menarik untuk pemerintah & pihak2 yg terkait:

“ Strategies for the control of micronutrient malnutrition

Policy and programme responses include food-based strategies such as 
dietary diversification and food fortification, as well as nutrition education,
public health and food safety measures, and finally supplementation. 
These approaches should be regarded as complementary, with their relative importance
depending on local conditions and the specific mix of local needs. 
Of the three options that are aimed at increasing the intake of micronutrients,
programmes that deliver micronutrient supplements often provide the fastest
improvement in the micronutrient status of individuals or targeted population. Food fortification tends to have a less immediate but nevertheless a
much wider and more sustained impact. Although increasing dietary diversity
is generally regarded as the most desirable and sustainable option, it takes the
longest to implement.”

“Gabrielle Palmer : In common with many others, my vision is of a world where there is egalitarian food security for all; where the majority of humans get their nutrients from their
food (and sunshine); where unbiased public education ensures that families have
the knowledge and skills to feed their children without the need for different or
specially made foods and where government policies protect public health rather
than private profit. “

Keypoint Bagian 5 :

1. Kecenderungan menyukai suatu rasa dibentuk sejak awal kehidupan dan cara pemberian makan awal bayi (MPASI) dapat membentuk bayi/anak menginginkan rasa yang terlalu manis, asin, makanan-minuman rendah nutrisi untuk jangka panjang.

2. Terdapat bukti/evidence bahwa anak2 yang tereskpose/mendapatkan beragam makanan sehat dan alami , di masa mendatang akan memilih sendiri makanan sehat seimbang yang memenuhi kebutuhan nutrisinya.

3. Kemiskinan adalah faktor kunci terjadinya kasus malnutrisi, tapi jangan salah, anak2 yang lahir besar di keluarga yang mampu bahkan kaya juga dapat menerima nutrisi yang tidak tepat/tidak optimal.

4. Sejak beberapa decade terakhir, industri makanan meningkat secara pesat. Harap diingat bahwa ketika para orang tua membeli makanan instant tersebut mereka tidak hanya membayar untuk kandungannya tapi juga untuk pemrosesannya, pengemasannya, penyimpanan, pendistribusian, dan iklan serta biaya2 pemasaran lainnya.

5. MPASI Instan difortifikasi dapat diberikan saat anak menderita kasus malnutrisi atau sudah mendekati tahap malnutrisi DAN akses mendapatkan bahan makanan kaya gizi dan spesifik untuk malnutrisinya itu sulit. Sulit di di sini bisa 2, bisa sulit karena tidak mampu (kondisi kemiskinan) dan atau sulit mendapatkannya di daerah Ibu tinggal. (key point : RUTFs is NOT for daily diet for healthy baby & easy access to get nutritious food).

6. Ada kondisi-kondisi di mana Ibu tidak dapat menyiapkan MPASI homemade seperti Ibu sakit , dalam perjalanan dan kondisi2 emergency lainnya.

7. Ketika Ibu membeli MPASI Instan, perhatikan What To Do Listnya.

Sumber :
1. A discussion paper developed for the International Baby Food Action Network (IBFAN)
by Gabrielle Palmer
2. http://www.cdc.gov/nutrition/everyone/basics/vitamins/iron.html
3. Laporan Riskesdas 2013 Kemenkes RI
4. Laporan Riskesdas 2007 Kemenkes RI
5. Complementary Feeding : Nutrition, Culture & Politics book by Gabrielle Palmer
6. Key message booklet UNICEF 2012
7. Guiding Principle of Complementary Feeding WHO 2010
8. Infant and young child feeding (IYCF) Model Chapter for textbooks for medical students and allied health professionals-WHO
9. Guidelines on food fortification with micronutrients 
10. The Truth About Baby Food jar : http://www.thealphaparent.com/2013/02/the-truth-about-baby-food-jars.html?m=1
11. Cheating Babies: Nutritional Quality and Cost of Commercial Baby Food - Daryth D. Stallone, Ph.D., M.P.H. Michael F. Jacobson, Ph.D. 
12. http://idai.or.id/public-articles/seputar-kesehatan-anak/anemia-defisiensi-besi-pada-bayi-dan-anak.html
13. http://idai.or.id/wp-content/uploads/2013/02/Rekomendasi-IDAI_Suplemen-Zat-Besi.pdf
14. http://aapnews.aappublications.org/content/early/2010/10/05/aapnews.20101005-1.full?rss=1
15. http://ods.od.nih.gov/factsheets/Iron-HealthProfessional/
16. http://www.iom.edu/Global/News%20Announcements/~/media/48FAAA2FD9E74D95BBDA2236E7387B49.ashx
17. http://ods.od.nih.gov/factsheets/Iron-HealthProfessional/
18. http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/002461.htm
19. http://ajcn.nutrition.org/content/71/5/1280s.full
20. http://pediatrics.aappublications.org/content/117/4/e779.abstract
21. http://www.bmj.com/content/343/bmj.d7157
22.https://www.acog.org/Resources_And_Publications/Committee_Opinions/Committee_on_Obstetric_Practice/Timing_of_Umbilical_Cord_Clamping_After_Birth

Dari : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10203221983616279&set=a.1070999501093.13218.1409280466&type=1 oleh : Fatimah Berliana Monika Purba

Tidak ada komentar:

Posting Komentar